KONSELING INDIVIDU
A. Perbedaan Konseling dan Bincang-bincang
Kriteria konseling antara lain yaitu :
1. Adanya rumusan sasaran atau tujuan yang akan menjadi pusat pembicaraan
tersebut
2. Adanya pengungkapan yang mendalam pada masalahnya dalam arti bukan hanya
pembicaraan secara sambil lalu
3. Menggunakan proses pengambilan keputusan yang afektif dengan jalan
merumuskan alternatif-alternatif dan perkiraan konsekuensi masing-masing
alternatif, dan
4. Rumusan akhir yang memungkinkan siswa meninjau secara kritis hal-hal yang
telah dibicarakan dan mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk
pembicaraan pada konseling berikutnya bila diperlukan.
B. Sejarah dan Tradisi Bimbingan dan Konseling
Tradisi melakukan bimbingan lahir dari didirikannya Biro
Vokasional di Boston, tahun 1908, Oleh Frank Parson. Sasaran bimbingan pada
saat itu ialah pembaharuan masyarakat dan pengembangan berbagai keterampilan
khusus untuk membantu para pekerja/remaja mendapatkan lapangan pekerjaan. Ini
kemudian menjadi awal dari berkembangnya bidang psikologi konseling, secara
tersendiri, yang bersasaran pada pengembangan individu normal dalam segi
pribadi dan sosial maupun bidang-bidang vokasional dan edukasional.
Sementara itu ditahun yang sama 1908, diterbitkan buku
Clifford Beers A Mind That Found itself, yang mendorong didirikannya National
committee for mental Health pada tahun 1909. Kemudian perhatian diperluaskan
pada kasus-kasus ringan, sehingga membangkitkan anjuran bagi para pendidik
untuk lebih memahami masalah-masalah perkembangan, seperti keragu-raguan diri
dan kecendrungan mengisolasi diri pada para anak didik.
C. Konseling Pendidikan Berorientasi Murid
Konseling pendidikan tentunya perlu dilakukan secara
sistematik agar efisien. Dimana konseling yang berorientasi pada murid harusnya
tidak menyita waktu murid dan memanggil murid keruangan berdasarkan gilirannya.
Konselor harus memberikan kesempatan
untuk siswa mendatangi ruang konselor bila dinginkan. Dengan itu berarti
konselor harus memperkenalkan pelayanan dan prosedur konseling ini agar bisa
dimanfaatkan oleh siswa. ini bisa dilakukan dengan :
-
Pertemuan sekolah (guru-orangtua murid)
-
Gambar-gambar yang menunjukkan aspek pelayanan
konseling
-
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berkenalan dengan konselor, misalnya diawal tahun ajaran baru.
D. Persyaratan Dasar Konseling
Empat persyaratan dasar yang diperlukan bagi keberhasilan
konseling adalah :
1. Siswa bersedia bekerja sama dalam proses konseling siswa mungkin
memprihatinkan, mempertanyakan mengenai hal-hal di lingkungannya, atau ingin
memahami apa yang sedang dialaminya.
2. Konselor memiliki keterampilan, pengalaman, dan sikap pribadi yang tepat
untuk dapat berfungsi secara efektif.
3. Adanya ruang yang tepat untuk konseling
4. Konseling hendaknya membentuk hubungan yang memungkinkan terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan jangka panjang maupun jangka pendek.
E. Prosedur Wawancara Pendahuluan
Prosedur wawancara meliputi hal-hal sebagai berikut,
yaitu :
1. Mempersiapkan diri untuk memulai wawancara, konselor mempelajari data latar belakang
siswa
2. Mengembangkan keterbukaan, konselor perlu menciptakan suasana yang aman dan ramah,
sehingga siswa terbuka untuk membicarakan kesulitannya.
3. Menentukan sasaran, penentuan sasaran atau objek yang ingin dicapai
konselor dan siswa beserta alokasi waktu yang ada.
4. Memperkokoh raport, konselor hendaknya menunjukkan kejujuran, ketulusan,
pernyataan perhatian, kemanusiaan, dan perseptivitas memungkinkan siswa
menyadari bahwa konselor benar-benar bermaksud membantunya.
5. Membantu siswa bicara, konselor perlu memanfaatkan spontanitas dan kepekaan
dalam :
(a) membantu siswa menyatakan perasaanya
(b) memahami sebab-sebab hambatan kesukaran ini
(c) membantu siswa mengenali perasaan yang tidak disadari atau perasaan yang
sulit diakui.
6. Mengakhiri wawancara, kebijaksanaan konselor dituntut untuk menentukan saat
beralih perhatian pada rumusan kesimpulan dan perencanaan pertemuan yang akan
datang.
7. Merencanakan Fowow up, pertemuan lanjutan diperlukan untuk mengetahui seberapa
jauh saran atau rencana kerja siswa saat konseling terdahulu telah berhasil
diterapkan.
F. Evaluasi Terhadap Efektivitas Konseling, mengukur hasil konseling dengan
menentukan apakah siswa berubah atau telah belajar perilaku yang diperlukan
untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan sendiri, merupakan suatu bukti
efektif atau tidaknya konseling.
G. Sikap dan Keterampilan Konselor
1. Perilaku yang menganut etika, konselor berhubungan dengan orang banyak,
untuk itu profesonalitas dan etikan kerja perlu dijaga dimanapun ia berada.
2. Flesibilitas, adanya kewaspadaan terhadap perubahan perilaku siswa.
3. Kompetensi intelektual
4. Penerimaan, menurut Shostrom konselor hendaknya menganggap siswa sebagai
manusia berharga dan bekehormatan, menerima siswa untuk membuat keputusan bagi
dirinya sendiri, percaya bahwa siswa memiliki potensi untuk memilih dengan
bijaksana, dan memahami siswa bahwa siswa bertanggung jawab atas kehidupannya
sendiri.
5. Pengertian. Konselor hendaknya mempunyai pengertian terhadap siswanya pada
dua tingkat observasi. Observasi, catatan-catatan pertemuan antar sifat, hasil
tes, memberikan pengertian permulaan.
6. Kepekaan. Konselor hendaknya jujur dan tulus dalam sikapnya.
KONSELING KELOMPOK
A. Keunggulan Konseling Kelompok
1. Efisiensi dan ekonomis bagi konselor, karena dalam satu waktu tertentu
dapat memberikan konseling bagi lebih dari seorang siswa
2. Kebanyakan masalah berkaitan dengan hubungan antar pribadi dalam lingkungan
social
3. Kebersamaan dalam kelompok lebih memberikan kesempatan untuk mempraktekkan
perilaku baru daripada keberduaan pada konseling individual.
4. Konseling kelompok memungkinkan klien-klien memaparkan masalahnya kepada
siswa-siswa lain, dan menjajagi penyelesaiannya dengan bantuan perasaan,
perhatian, dan pengalaman siswa-siswa lain.
5. Dalam memecahkan masalah pribadi maupun antar pribadi dalam konseling
kelompok, para klien tidak hanya meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
bersama, tetapi juga belajar keterampilan sosial yang digunakan dalam pemecahan
ini.
6. Dalam konseling kelompok klien-klien tidak hanya memecahkan masalah
masing-masing, tetapi juga masalah orang lain.
B. Model-Model Interaksi Kelompok
1. Model Kelompok Bimbingan
Bimbingan kelompok adalah interaksi antara kelompok siswa
dengan konselor dalam bentuk diskusi kelompok, ceramah, atau komunikasi tanya
jawab. Kegunaan bimbingan kelompok ini adalah :
a. Menyebarluaskan informasi yang membantu siswa memanfaatkan lingkungan
sekolah secara efektif
b. Menjadi sumber kenyataan untuk diskusi demi pertumbuhan dan perkembangan
hal yang diminati kelompok siswa
c. Merangsang fikiran siswa mengenai dunia biologic, sosial maupun psikologis
d. Memberi orientasi pada siswa mengenai adanya pelayanan bimbingan, kegunaan
konseling, dan prosedur operasional yang berlaku di kantor konselor.
2. Model Kelompok Preses
Kelompok model ini mengarah pada proses yang terjadi
dalam kelompok. Melalui proses-proses dalam kelompok, masing-masing peserta
belajar peran yang perlu dilakukan dalam kelompok, belajar perilaku-perilaku
yang disetujui dan tidak disetujui kelompok, yang mengoptimalkan efisiensi dan
kinerja kelompok, dan belajar cara mempengaruhi kelompok agar timbul perubahan
positif dalam kelompok.
3. Model Kelompok Konseling
Dalam penanganan masalahnya kelompok konseling lebih
secara langsung memusatkan perhatian pada implikasi psikologis mengenai
berbagai alternatif bagi tiap-tiap individu.
C. Keterbatasan Konseling Kelompok
1. Beberapa klien memerlukan konseling individu sebelum dapat berpartisipasi
dalam konseling kelompok
2. Beberapa siswa mengikuti kegiatan konseling kelompok bukan sebagai sarana
tapi sebagai tujuan.
3. Ada beberapa klien yang kadang menjadikan kelompok sebagai pelampiasasn
kejengkelan dan kemarahan
4. Beberapa orang sulit percaya terhadap kelompok dan sulit membuka diri
5. Peran konselor jauh lebih rumit dibanding konseling individu
6. Kompetensi konselor menentukan keberhasilah konseling, karena besar
keberhasilan konseling setara dengan kegagalan konseling.
7. Banyak waktu yang akan terbuang untuk membenahi proses kelompok.
D. Mutu Pribadi Sebagai Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling kelompok
bermacam-macam. Menurut Ohlson (1973) tujuan akhir dari tujuan yang
bermacam-macam tersebut adalah “
Penyesuaian diri”. Dimana konselor pada proses konseling konselor mencerminkan
persepsinya terhadap mutu pribadi yang dianggap efektif bagi penyesuaian-diri.
Dimana dalam hal ini para pengikut Adler misalnya, menganggap rumusan mutu
pribadi yang ingin dicapai adalah menanggalkan pernyataan-pernyataan yang
mendasari perasaan inferior, sehingga meningkatkan konsep diri.
E. Prosedur dalam Konseling Kelompok
1. Mengidentifikasi tujuan tiap-tiap klien
Dalam hal ini konselor dapat bertatap muka dengan klien
secara individual, dan membantu menentukan tujuan masing-masing klien calon
peserta kelompok konseling nya.
2. Memutuskan organisasinya
Konselor perlu mempertimbagnkan besarnya kelompok, tempat
pertemuan, lama waktu tiap session, dan berapa kali seminggu pertemuan, agar
konseling kelompok berhasil secara optimal.
3. Memulai
Konselor dapat memulai proses konseling dengan memberikan
pengarahan singkat tetapi jelas mengenai deskripsi perannya maupun peran para
peserta kelompok.
4. Menciptakan hubungan baik
Setelah konseling berjalan, sering kali konselor perlu
mengingat kembali tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing peserta. Dan
kadang para peserta lupa kan tujuannya sendiri, dan terbawa oleh tujuan peserta
lain
5. Pelaksanaan konseling diteruskan
Adanya insight mengenai persoalan yang dihadapi dan
adanya saling mendukung menyebabkan peserta berani mencoba perilaku yang telah
dilatihkan dalam kelompok, untuk dilakukan diluar kelompok.
6. Mengakhiri keikutsertaan anggota
Perkembangan setiap peserta dalam kelompok dapat tidak
sama kecepatannya. Perlu dipertimbangkan apakah peserta dapat meninggalkan
kelompok satu demi satu, atau mengikutinya sampai selesai.
7. Mengevaluasi hasil
Efektivitas dapat diukur dengan mengobservasi perilaku
diluar kelompok konseling.
F. Tanggung Jawab Peserta Kelompok
1. Setiap anggota hendaknya menentukan tujuan keikutsertaan dalam kelompok
2. Tiap peserta harus melibatkan kelompok secara langsung untuk mencapai
tujuannya.
3. Tiap peserta bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian permasalahan yang
dikemukakan peserta lain dan berusaha membantunya
4. Tiap peserta harus mengikuti konsensus kelompok dalam hal aturan dan
prosedur.
G. Organisasi dan Komposisi Kelompok
Dalam konseling kelompok, komposisi kelompok menjadi
sesuatu yang penting. Ada ahli yang mengatakan jumlah anggota kelompok tidak
kurang dari 7 orang dan tidak lebih dari 10 orang. Dimana makin muda
pesertanya, perlu lebih kecil kelompoknya. Dan frekuensi pertemuannya juga
divariasikan menurut kelompok, masalah dan kesempatanya. Mulai dari seminggu
sekali, atau dua-tiga kali seminggu bila masalah memerlukan penanganan segera.
H. Sikap dan Keterampilan Konselor
1. Mendengarkan dengan aktif, untuk menyatakan kembali dan memantulkan kembali
perasaan yang dikemukakan secara verbal-non verbal, dengan nada penuh
penerimaan
2. Mengecek ketepatan persepsi, dengan menamai perasaan atau masalah dan
menanyakan kembali apakah hal ini sesuai dengan maksud peserta
3. Memberikan umpan balik untuk memperlancar proses.
4. Mengajukan konfrontasi, terutama bila tidak ada kesesuaian antara perilaku
verbal dan non verbal, dan perilaku lain yang mengganggu jalannya diskusi
5. Memperlancar pelaksanaan proses kelompok, dengan memberi komentar-komentar
atau mengarahkan diskusi ke tercapainya tujuan kelompok
6. Menghubungkan pernyataan peserta satu dengan yang lain, atau permasalahan
peserta satu dengan permasalah peserta lain, untuk memberi dukungan komunikasi
peserta dengan peserta.
7. Membuka jalan dan mengarahkan kembali bila terjadi kemacetan diskusi
8. Menyimpulkan hasil interaksi kelompok.
Permisi mba mau tanya, kalau untuk konseling idealnya interval berapa hari ya ?
BalasHapus