ASSALAMUALAIKUM ...... SELAMAT DATANG DI

GORESAN GARIS LURUS



Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 09 September 2012

Tasawuf dan Implikasinya dalam Kehidupan Sehari-Hari


Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam. Spritualitas ini dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam di dalamnya. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaniahnya ketimbang aspek jasmaniahnya, dalam kaitannya dengan kehidupan dunia fana, sedangkan dalam kaitanya dengan pehamaman, ia lebih menekankan penafsiran batiniah ketimbang penafsiran lahiriah.[1]
Menurut Ma’ruf Al-Karkhi (w.200 H), tasawuf adalah mengambil hakikat dan tidak tamak dari apa yang ada dalam genggaman tangan makhluk. Sementara menurut Abu yazid al-Bustami tasawuf dilihat dalam tiga aspek, aspek pertama adalah kha, melepaskan diri dari perangai tercela. Aspek kedua ha, menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji, dan terakhir adalah aspek jim, mendekatkan diri kepada tuhan.
Al-Junaid Al-Bagdadi mengatakan bahwa tasawuf adalah membersihkan hati dan sifat yang menyamai binatang dan melepaskan akhlak yang fitri, menekankan sifat Basyariah (kemanusiaan), menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat-sifat kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, member nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji terhadap Allah SWT, dan mengikuti syariat Rasulullah SAW.
Junaid menyebutkan juga bahwa tasawuf didasarkan pada teladan tujuh rasul, yaitu :
1.      Kedermawanan Ibrahim yang mengorbankan putranya
2.      Kepasrahan Ismail yang menyerahkan dirinya disembelih atas perintah tuhan
3.      Kesabaran Ayub yang tahan menderita dari berbagai penyakit berat.
4.      Perlambangan Zakaria yang menerima titah tuhan untuk tidak berbicara selama tiga hari kecuali dengan simbol-simbol.
5.      Keterkucilan  Yunus yang merasa asing di negerinya dan ditengah kaumnya.
6.      Kezuhudan Isa yang dalam hidupnya hanya menyimpan sebuah mangkuk dan sisir. Dimana mangkuk itu dibuang ketika ia melihat seseorang bisa minum dengan tangan. Dan sisir juga akhirnya dibuang oleh Nabi Isa karena melihat orang bisa menyisir rambut dengan tangan.
7.      Kemelaratan Muhammad SAW yang mana beliau mempunyai kunci dari kekuasaan untuk memiliki harta berlimpah ruah, namun memilih hidup sehari kenyang sehari lapar.

Implikasi Nilai-nilai Tasawuf dalam Kehidupan Sehari-hari
Tasawuf merupakan upaya membersihkan pandangan, memurnikan orientasi, meluruskan niat dan cara bersikap untuk tidak terlalu mementingkan “yang selain Allah” (dunia). Dalam tasawuf ada nilai-nilai yang menjadi hal penting untuk tasawuf itu sendiri. Pada kenyataanya diera milienium ini nilai-nilai tasawuf itu sendiri mulai diabaikan. Padahal jika nilai-nilai itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka peluang untuk mendapatkan masyarakat islami itu sangat besar, dengan kesopan-santunan dan kekentalan unsur spritual.
Berikut beberapa nilai-nilai tasawuf yang bisa diimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari :
a.       Zuhud
Orang yang zuhud tidak merasa senang dengan berlimpah ruahnya harta dan tidak merasa susah dengan kehilangannya. Firman Allah dalam surah Al-Hadid:3, yang artinya :
Agar kalian tidak merasa susah dengan apa yang hilang, dan juga tidak merasa bangga dengan apa yang datang kepada kalian.
Zuhud menurut Al-Junaid adalah kosongnya tanga dari kemilikan dan bersihnya hati daripada keinginan untuk memiliki sesuatu.[2]
Al-Harraz dalam kitab as-shidqu menyebutkan bahwa zuhud adalah orang yang meniadakan keinginan keduniaan dari hatinya secara sedikit demi sedikit, dan ia akan melihat tujuan dari zuhud itu.
Untuk nilai zuhud ini, Nabi Muhammad jelas menjadi contoh yang tepat untuk kita jadikan pedoman. Banyangkan saja seorang pemimpin umat dan khalifah besar seperti beliau pernah tidur dengan beralas pelepah kurma, dimana ketika begitu terbangun bekas pelepah tersebut menempel ditubuhnya. Padahal beliau bisa hidup jauh lebih mewah dari hal itu, tapi beliau dengan kesederhanaannya memilih tidak begitu mencintai dunia.
Artinya kita bisa melakukan nilai-nilai zuhud dengan bentuk kesederhanaan kita dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Ridho
Secara harfiah, Ridho artinya rela, suka, senang. Harun nasution mengatakan ridho tidak berusaha, tidak menentang qada’ dan qadar tuhan. Dalam hal ini ketika kita mampu melakukan ridho dengan penerimaan atas qada dan qadar, secara tidak langsung kita telah mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal didalam hati kita hanya perasan sengan dan gembira.
Dengan demikian penting sekali implikasi dari ridho untuk kehidupan kita. Contohnya ketika kita harus mengikuti ujian, dan mendapatkan hasil. Pada akhirnya ketika kita mendapat IPK yang baik atau tidak, ketika sifat ridho telah tertanam dalam diri kita maka, apapun hasil dari IPK yang ada, akan diterima dengan kerelaan sebagai bentuk penerimaan atas qada dan qadar.
c.       Qanaah
Qanaah merupakan satu dari nilai-nilai tasawuf yang juga begitu penting dalam pengaplikasiaannya. Dalam keseharian kita terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Boleh digambarkan ketika kita berjalan dipinggir jalan, seusai huja reda. Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan lewat dan menyebabkan genangan air  setelah hujan membasahi kita. Sementara si pengendara mobil tampaknya tak menyadari kekeliruannya dan tetap melaju. Pertanyaanya, apa yang akan anda lakukan untuk menghadapi hal semacam ini? Marah? Atau anda akan menggerutu?. Marah atau menggerutu, itu pilihan anda, hanya saja pada siapa anda akan marah atau menggerutu? Sementara si pengendara mobil sudah berlalu meninggalkan anda.
Disinilah qanaah diperlukan, sifat menerima takdir Allah dengan lapang dada, itulah qanaah yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.
d.      Tawakal
Tawakal adalah perasaan dari seorang mu’min dalam memandang alam, bahwa apa yang terdapat didalamnya tidak akan luput dari tangan Allah, dimana di dalam hatinya digelar oleh Allah ketenangan, dan disinilah seorang muslim merasa tenag dengan tuhannya, setelah ia melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Pada hakikatnya sebelum bentuk ketawakalan itu muncul, hal yang pertama kita lalui adalah ikhtiar. Dimana ikhtiar merupakan proses yang dilakukan semaksimal mungkin dengan fisik dan raga, lalu setelah proses tersebut dilakukan, kini giliran hati atau jiwa untuk bersika pasrah secara penuh kepada ketentuan ALLAH SWT, inilah yang kemudian disebut tawakal.
Namun dalam keseharian kita terkadang sering terlihat kekeliruaan akan hal seperti ini. Banyak terkadang dari mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu, tanpa melakukan proses tawakkal setelah itu. Inilah yang membuat kita tak jarang menganggap semua yang dihasilkan hanya atas kerja keras pribadi, bukan bantuan atau campur tangan tuhan.
Padahal ketika kita telah berusaha keras, dan dilanjutkan dengan proses tawakal. Maka kebimbangan hati atau kekecewaan kita akan segera terobati ketika apa yang kita usahakan tidak terlaksana dengan baik.
e.       Sabar
Secara hafiah, sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan manampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya ibn Atha mengatakan sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik.
Dikatakan bahwa sabar adalah sesuatu yang tak ada batasnya, sebab sabar tidak memiliki tolak ukur. Hanya Allah pemilik sifat sabar yang sempurna. Tapi kesabaran tetap saja harus kita implikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun dalam hal ini juga diperlukan kejelian kita dalam menghadapi suatu masalah. Terkadang apa yang dicobakan untuk kita adalah buah untuk melihat sejauh mana kesabarannya ataupun melatih sikap sabar yang ada pada diri kita sendiri,
f.       Syukur
Menurut Al- Kharraz syukur dibagi menjadi tiga, yaitu syukur dengan hati meliputi keyakinan kita bahwa nikmat yang adalah hanyalah dari Allah bukan dari selain-Nya. Yang kedua, syukur dengan lisan, berupa ucapan Alhamdulillah, yang kita ucapkan atas nikmat yang diberikan. Dan ketiga syukur dengan jasmani, dimana perwujudannya dilakukan dengan mempergunakan setiap anggotanya, yang telah disehatkan oleh Allah dan yang telah dicipkanan dengan bentuk yang sangat baik.
Apa yang terjadi jika Allah menskor 3 menit tanpa nikmatya, maka dalam tiga menit orang akan hancur dan sibuk mencari pertolongan. Udara berhenti dan manusia kesusahan bernapas, itu salah satu contoh kecilnya. Betapa besar nikmat yang diberikan untuk kita para manusia, tapi terkadang manusia jarang mengapresiasikan nikmat itu. Bersyukur itu menjadi jalan keluar yang mesti didukung pelaksanaanya. Allah telah memberi banyak, jadi rasa syukur merupakan hal yang pastinya menjadi wajib untuk kita lakukan.


[1] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga: Jakarta. Hal 2
[2] Amir An-Najar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, Pustaka Azam : Jakarta, hal 238


DAFTAR PUSTAKA
An-Najar, Amir. 2004. Ilmu Jiwa dalam Tasawuf. Pustaka Azam : Jakarta
Hadi, Ahmad. 2009. Dahsyatnya Sabar. Qultum Media : Jakarta
Kertanegara, Mulyadhi. 2007. Menyelami Lubuk Tasawuf. Erlangga: Jakarta
Permadi, K. 1997. Pengantar Ilmu Tasawuf. PT. Rineka Cipta : Jakarta



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar