ASSALAMUALAIKUM ...... SELAMAT DATANG DI

GORESAN GARIS LURUS



Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 19 Maret 2012

Sejarah DI-TII (Darul Islam)


2.1   Apa itu Darul Islam?
Kata Darul Islam yang sering disingkat DI berasal dari bahasa arab Dar al-Islam yang secara harfiah berarti “rumah” atau “keluarga” Islam. Dengan begitu Darul Islam dapat diartikan sebagai dunia atau wilayah Islam. Dimana keyakinan Islam dan peraturan-peraturan berdasarkan syariat Islam merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Dimana lawan dari Darul Islam itu sendiri adalah Darul Harb yang berarti wilayah perang, atau dunia kaum kafir, yang berangsur-angsur ingin dimasukan ke dalam Darul Islam.
Di Indonesia sendiri kata Darul Islam digunakan untuk gerakan-gerakan sesudah tahun 1945 yang berusaha merealisasikan cita-cita mereka untuk mendirikan sebuah Negara Islam. Meski sebenarnya pada awalnya sempat beredar kabar, bahwa sebenarnya DI itu adalah singkatan dari Daerah I, dan artinya tidak dipahami secara umum. Menurut Alers, kata itu seakan-akan “Negara kesatuan”.[1] Namun, berbeda dengan Alers, Pinardi mengemukakan bahwa latar belakangnya adalah suatu pembedaan terhadap daerah dalam negara Islam. “Daerah I” adalah daerah pusat negara, yang sepenuhnya dikuasai Oleh suatu pemerintahan Islam dan diatur sesuai dengan hukum Islam. “Daerah II” terdiri dari daerah-daerah di Jawa Barat yang hanya sebagian saja dikuasai oleh Negara Islam, sedangkan dalam “Daerah III” untuk daerah yang belum dikuasai oleh Negara Islam.[2]
Lepas dari apa yang diungkapkan oleh Alers maupun Pinardi sendiri, Darul Islam telah dicatat dalam sejarah sebagai sebuah gerakan pemberontakan yang berusaha mendirikan Negara Islam, sementara saat itu Indonesia telah berdiri dan merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945.
2.2   Tokoh dibalik Darul Islam
Dibalik kemunculan dari Darul Islam itu sendiri sebenarnya ada dua tokoh yang tercatat berperan dalam membentuk gerakan ini. Tokoh pertama adalah Kiai Jusuf Tauziri, ia sebutkan sebagai pendiri gerakan Darul Islam pada tahap pertama, sebagai gerakan Islam yang damai. Yang kemudian ia menarik dukungannya dari Kartosuwirjo dikarenakan memberontak terhadap pemerintah Republik Indonesia.
Namun, tokoh yang benar-benar identik dengan gerakan Darul Islam ini adalah Kartosuwirjo, sosok yang bernama lengkap Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo ini adalah keturunan Jawa. Meski hampir seluruh karirnya banyak terjadi di Jawa Barat. Ia bukanlah pribumi Jawa Barat. Ia lahir di Cepu ( Jawa Tengah), antara Blora dan Bojonegoro, di perbatasan dewasa ini antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada 7 Februari 1905.
Ia mendapat pendidikan Barat pada sekolah dasar dan sekolah menengah yang menggunakan bahasa Belanda. Jadi, ia bukan seorang santri dari sebuah pesantren. Bahkan diceritakan ia tidak pernah mempunyai pengetahuan yang benar tentang Bahasa Arab dan Agama Islam. Dari tahun 1923 sampai tahun 1926 ia mengikuti kursus persiapan pada Nederlands Indische Artsen School (NIAS), yaitu Sekolah Ketabiban Hindia Belanda di Surabaya. Di Kota itu kemudian ia bertemu dengan H. Oemar Said Tjokroaminoto, yang kemudian menjadi ketua PSII, serta menjadi bapak angkatnya.
Menurut Pinardi, Kartosuwirjo berhasil memulai studinya dalam ilmu kedokteran dalam tahun 1926, tetapi setahun kemudian ia dikeluarkan dikarenakan kegiatan politik yang dilakukannya. Dari tahun 1927 sampai tahun 1929  menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Dan disebutkan dari pengalaman yang didapatkan dari pemimpin PSII inilah, terbesit niat Kartosuwirjo untuk mendirikan negara Indonesia yang berdasarkan Islam.
Tahun 1929 Kartosuwirjo pindah ke daerahMalangbong dekat Garut, bagian timur Jawa Barat, daerah asal istrinya. Ia kemudian bekerja pada PSII di daerah tersebut. Dan sewaktu berusia 26 tahun ia terpilih sebagai sekretaris jenderal PSII pada tahun 1931. Dan kemudian setelah meninggalnya Tjokroaminoto (1934), Wondoamiseno terpilih menjadi ketua PSII, dan Kartosuwirjo sebagai wakilnya pada tahun 1936.
Kemudian pada tahun-tahun berikutnya terjadi pertentangan ditubuh PSII sendiri, berkaitan dengan kerjasama dengan pemerintah kolonial. Kartosuwirjo berada pada pihak nonkooperasi, ia kemudian dianggap radikal dan dikeluarkan dari PSII.
Namun Kartosuwirjo tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian membentuk PSII tandingan pada tanggal 24 April 1940 di Malangbong bersama Kamran, yang kemudian menjadi komandan Darul Islam. Pada saat itu Kartosuwirjo juga mendirikan pesantren di daerah Malangbong. Bernama institute Supah atau Institut Suffah. Semula institute ini dimaksudkan sebagai latihan kepemimpinan dalam bidang politik-keagamaan. Namun kemudian berubah menjadi suatu pusat latihan untuk pasukan gerilya dimasa mendatang (seperti Hizbullah dan Sabilillah) dikarenakan pada masa pendudukan Jepang, semua kegiatan partai politik dibekukan. Dimana hal ini sebenarnya merupakan bentuk penyebaran propaganda dari Kartosuwirjo untuk membentuk “Negara Islam”
Berkaitan dengan Darul Islam Kartosuwirjo dikatakan sempat memproklamirkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1945, karena gagasan mendirikan Negara Islam Indonesia itu sendiri sebenarnya telah dicanangkan oleh Kartosuwirjo sejak tahun 1942. Namun ia dan gerakannya kemudian kembali ke Republik, saat Indonesia diproklamirkan. Ia juga kemudian menjadi anggota pengurus besar partai Masyumi. Ia merangkap sebagai Komisaris Jawa barat, dan sekretaris I partai tersebut. Selain itu pada masa jabatan cabinet Amir Sjarifuddin tanggal 3 Juli 1947, Kartosuwirjo sempat ditawari sebagai menteri muda pertahanan kedua, yang kemudian ditolak oleh sosok itu.
Pada saat agresi militer pertama Belanda, Kartosuwirjo bersama gerakan DI-nya bergerak mendukung Republik untuk menghancurkan kekuatan Belanda. Tapi kemudian saat dilakukan persetujuan perjanjian Renville, 8 Desember 1947. Pasukan TNI harus meninggalkan wilayah Jawa Barat,  namun, Kartosuwirjo yang memimpin Hizbullah dan Sabilillah tidak hijrah, dan bertahan di Jawa Barat. Sehingga kemudian ia membentuk Darul Islam dan mengganti tentaranya menjadi TII (Tentara Islam Indonesia), yang bermarkas di Gunung Cepu. Pada akhirnya ini berujung pada sebuah proklamasi pembentukan Negara Islam Indonesia, dengan Kartosuwirjo sebagai Imamnya.
2.3   Latar belakang munculnya Darul Islam
Menurut C.A.O. Van Nieuwenhuijze menyebutkan bahwa seorang Kiai bernama Jusuf Tauziri sebagai pemimpin kerohanian gerakan DI (Darul Islam) selama tahap pertama. Kemudian seperti yang dikatakan oleh Hiroko Horikoshi, Kiai Jusuf Tauziri menarik dukungannya ketika Kartosuwirjo memberontak terhadap Republik 1949. Setelah memutuskan hubungan dengan Kartosuwirjo, dia menjadi pemimpin Darul Islam, Dunia Perdamaian, suatu gerakan untuk mendirikan negara Islam dengan cara damai.
Namun, banyak literatur sejarah mengungkapkan bahwa Kartosuwiryo-lah pemimpin atau pendiri dari Darul Islam. Ia jugalah yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia pada hari-hari sekitar menyerahnya Jepang.
Pembentukan Darul Islam dan TII (tentara Islam Indonesia) sendiri disebutkan sebagai respon negative yang diberikan oleh pihak Kartosuwirjo atas adanya perjanjian Renville, antara pemerintah dan pihak Belanda. Kesepakatan yang mengharuskan TNI menarik diri dari Jawa Barat, hal ini ditolak oleh Kartosuwirjo, dan Pasukannya, yang kemudian membentuk gerakan Darul Islam dengan pasukan yang berganti nama menjadi TII (tentara Islam Indonesia)
2.4   Darul Islam Sebuah Pemberontakan
Seperti yang diketahui Darul Islam terlahir sebagai gerakan damai saat pertama dipimpin oleh Kiai Jusuf Tauziri. Meski begitu yang selalu diungkapkan sejarah, adalah Darul Islam sebagai sebuah gerakan pemberontakan, yang dipimpin oleh seorang Kartosuwirjo.
Menurut Alers, sebenarnya pada tanggal 14 Agustus 1945, Kartosuwirjo sudah memproklamirkan suatu negara Darul Islam yang merdeka.[3] Tetapi setelah tanggal 17 Agustus 1945 ia memihak Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta. Kemudian pada saat Belanda melancarkan agresi militer I terhadap Republik Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947, Kartosuwirjo menyerukan Perang suci menentang Belanda pada tanggal 14 Agustus.
Kartosuwirjo beserta gerakan DI-nya sebenarnya mendukung Republik dalam perjuangan melawan Belanda, seperti juga yang dilakukan oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang ada di Jawa Barat, di bawah pimpinan Kamran dan Oni. Namun masalah kemudian muncul ketika Indonesia melakukan perjanjian Renville dengan pihak belanda.
Darul Islam kembali bergejolak, hal itu sendiri disebutkan sebagai reaksi negative dari adanya persetujuan akan perjanjian Renville pada bulan Januari 1948. Menurut perjanjian tersebut pasukan TNI harus ditarik dari dari daerah Jawa Barat yang terletak dibelakang garis demarkasi Van Mook. Dan ketentuan itu harus dilaksanakan pada bulan Februari. Namun sekitar 4000 pasukan Hisbullah dibawah pimpinan Kartosuwirjo, bekas anggota PSII sebelum perang dan bekas anggota Masyumi menolak untuk berhijrah.
Reaksi keras dari Pihak Kartosuwirjo yang menentang hasil perjanjian Renville inilah yang dianggap sebagai sebuah pemberontakan bagi para sejarawan. Dikarenakan sebagai warga negara, Kartosuwirjo beserta pasukannya bisa menerima dan menjalankan hasil dari perjanjian Renville sendiri. Bukan malah melakukan perlawanan dengan pihak pemerintah.
Apalagi pada akhirnya Darul Islam sendiri memproklamasikan kemerdekaannya sebagai Negara Islam Indonesia, sementara saat itu, Indonesia sudah merdeka. Itu sama saja berarti Darul Islam ingin mendirikan negara di dalam sebuah negara. Jelas saja itu dianggap sebagai bentuk dari sebuah gerakan pemberontakan.
Meski sebenarnya diungkapkan bahwa Negara Islam Indonesia tidak diproklamirkan pada negara Indonesia melainkan diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Jogya. Sebab daerah de-facto R.I. pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 Kabupaten saja ( menurut fakta-fakta perundingan/kompromis dengan Kerajaan Belanda; perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya de-facto R.I. tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, de-facto R.I. adalah hanya terdiri dari Yogyakarta).
Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan didalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi itu berarti gerakan Darul Islam tidak bisa dikatakan sebagai suatu gerakan pemberontakan.
Sementara bagi pemerintah Indonesia itu sendiri tampaknya tidak berkeinginan memandang aksi dari Kartosuwirjo ini sebagai suatu pemberontakan terhadap Republik Indonesia, tetapi hanya dianggap sekedar sebagai suatu gerakan-gerakan tingkat daerah terhadap “Negara Pasundan” buatan Belanda. Karena perlu dijelaskan bahwa pada bulan Maret 1948 kebijakan pembentukan negara federal yang dianut oleh Belanda telah menghasilkan terbentuknya negara Pasundan di daerah-daerah yang diduduki Belanda di Jawa Barat. Artinya Jawa Barat menjadi salah satu dari negara boneka Belanda. Meski sebagian besar dari daerah Jawa Barat itu sendiri telah dikuasai oleh pihak Darul Islam, dengan Tentara Islam Indonesianya.
Ini menjadi pembantahan bahwa Darul Islam bukanlah sebuah pemberontakan, dikarenakan lebih mengarah pada sebuah gerakan untuk mengambil alih negara Pasundan, bukan membentuk negara dalam negara, yaitu Indonesia.
Namun, tidak sepenuhnya alasan di atas bisa diterima, meski Darul Islam membentuk negara Islam di negara boneka Belanda, seorang tokoh bernama Kahin mencatat bahwa baru pada akhir bulan Desember 1948 Darul Islam bersikap anti-Republik secara terang-terangan
Kemudian pada saat Belanda melancarkan agresi militer ke II (19 September 1948) Kartosuwirjo mengulangi seruannya untuk melakukan perang suci terhadap pihak Belanda. Dengan begitu, pihak Darul Islam sudah secara terang-terangan tidak terikat dengan Perjanjian Renville lagi.  
Dan pada akhirnya pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosuwirjo sebagai Imam dari DI mendeklarasikan berdirinya negara Islam Indonesia. Sekali lagi ia secara resmi mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia, yang kali ini sebagai pengganti terhadap Republik Indonesia (“Yogya”). Inilah yang kemudian menjadi catatan terbesar untuk menyatakan Darul Islam sebagai sebuah gerakan pemberontakan. Dimana bunyi dari proklamasi itu yaitu sebagai berikut :
PROKLAMASI
Berdirinya
Negara Islam Indonesia
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih
Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadarrasulullah
Kami, Ummat Islam Bangsa Indonesia
MENYATAKAN :
BERDIRINYA
NEGARA ISLAM INDONESIA
Maka Hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu, ialah : HUKUM ISLAM.
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !
Atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia
IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA

ttd
S.M. KARTOSOEWIRJO
Madinah - Indonesia,
12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949.
Proklamasi kemudian menjadi awal bagi Darul Islam sendiri untuk mempertahankan keberadaannya. Namun bagaimana juga tetap saja pembentukan Negara Islam Indonesia didalam sebuah Negara, tetap saja tidak bisa dibenarkan. Apalagi banyak korban dalam peristiwa ini. Selain itu keberadaan gerakan yang lengkap dengan tatanan atau jajaran dari sebuah negara ini, tentu menjadi alasan bahwa gerakan ini bisa dikatakan sebagai gerakan pemberontakan terhadap kedaulatan negara Republik Indonesia.
2.5   Penumpasan Gerakan Darul Islam (Divisi Siliwangi)
Sebelumnya perlu diketahui bahwa penumpasan DI dilakukan oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Sebenarnya berkaitan dengan Gerakan Darul Islam yang kemunculannya bersamaan dengan agresi Militer II, TNI sendiri memiliki rencana tertentu untuk menghadapi agresi militer Belanda II. Dimana TNI menyusun rencana umum yang terkenal dengan nama Perintah Siasat No.1 atau instruksi Panglima Besar pada November 1948 yang telah mendapat pengesahan dari Pemerintah RI. Rencana ini didasarkan atas peraturan pemerintah No. 33 tahun 1948 dan peraturan pemerintahan No 70 tahun 1948. Gerakan TNI atas perintah ini lebih dikenal dengan sebutan Wingate TNI.
Berkaitan dengan hal itu, Divisi Siliwangi juga memulai gerakan Wingate-nya, pada tanggal 19 Desember 1948, setelah mendengar Perintah kilat dari Panglima Besar Sudirman yang merupakan perintah bergerak menyusun Wehrkreise-wehkreise di tempat-tempat dalam perintah Siasat No.1, seperti telah disinggung di muka yang antara lain, mengatur :
1.      Cara perlawanan, ialah bahwa kita tidak lagi akan melakukan pertahanan liniar
2.      Melakukan siasat /politik bumihangus
3.      Melakukan pengungsian atas dasar politik non-kooperasi.
4.      Pembentukan Wehkreise-wehkreise.
Perintah kilat ini disambut dengan gembira oleh anak-anak Siliwangi yang bagaimanapun juga sudah sangat merindukan kampung halaman mereka di Jawa Barat. Letnan Kolonial Daan Yahya, Kepala Staf Divisi segera pergi ke Istana untuk melaporkan, bahwa Siliwangi akan memulai gerakan kembali ke Jawa Barat sebagaimana yang telah ditentukan dalam perintah siasat No.1.
Kemudian, TNI, Divisi Siliwangi, memulai long march-nya berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Hal ini kemudian dianggap oleh pihak Kartosuwirjo sebagai ancaman bagi kelangsungan dan cita-cita Kartosuwirjo untuk membentuk Negara Islam. Maka dari itu Pasukan tersebut harus dihancurkan agar tidak memasuki daerah Jawa Barat.
Pada tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata utuk pertama kalinya antara pihak TNI, Divisi Siliwangi dan Tentara Islam Indonesia. Bahkan pada akhirnya terjadi perang segitiga antara DI/TII-TNI-Tentara Belanda.
Pemimpin Masyumi sendiri Moh. Natsir, yang menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Hatta pada tanggal 29 Januari sampai awal agustus 1949, berusaha menghubungi Kartosuwirjo melalui sepucuk surat pada tanggal 5 Agustus 1949. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah timbulnya keadaan yang semakin buruk. Dikarenakan kemelut ini mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Jawa Barat. Bahkan banyak orang-orang tak berdosa tewas pada pertikaian ini. Moh. Natsir juga kemudian membentuk sebuah komite yang dipimpin oleh dirinya sendiri di bulan September 1949, sebagai upaya kedua untuk mengatasi hal ini. Namus sekali lagi ia gagal.
Operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII dimulai pada tanggal 27 Agustus 1949. Operasi ini  menggunakan taktik “Pagar Betis” yang dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat berjumlah ratusan ribu untuk mengepung gunung tempat gerombolan bersembunyi. Taktik ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak mereka. Selain itu, juga dilakukan operasi Tempur Bharatayudha dengan sasaran menuju basis pertahanan mereka. Walaupun demikian, operasi penumpasan ini memakan waktu yang cukup lama. Baru pada tanggal 4 Juni 1962, Kartosuwirjo terkurung dan berhasil ditangkap di Gunung Geber di daerah Majalaya oleh pasukan Siliwangi. Yang kemudian selanjutnya ia diberi hukuman mati.
Meski begitu gerakan ini sendiri tak berhenti sampai disitu. Karena gerakan semacam DI/TII ini ternyata tidak hanya muncul di Jawa Barat, tapi juga merebak ke berbagai daerah di Indonesia. Dimana gerakan-gerakan DI/TII yang ada diberbagai daerah ini juga merujuk pada apa yang dicita-citakan oleh Kartosuwirjo. Yaitu membentuk negara Islam. Inilah yang sebenarnya dianggap sebagai sebuah pemberontakan.


[1] Alers, Rode of Groene, hal 234
[2] Pinardi, Kartosuwirjo, hal 59
[3] Cf.Alers, Roda of Groene, hal 73

DAFTAR PUSTAKA
Habib.M Mustapa. 2006. Sejarah. Jakarta : Yudhistira
H.Nasution.A. 1979.Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia,Agresi Militer Belanda II. Bandung :Angkasa.
Moedjanto.G. 1989.Indonesia Abad ke 20, dari Perang Kemerdekaan I sampai pelita III. Yogyakarta : Kanisius
Van.C Dijk. 1993.Darul Islam, Sebuah Pemberontakan. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti
Wajan. I Badrika. 2004. Sejarah Nasional dan Umum. Jakarta : Bumi Aksara.
Diakses pada : http://darul_islam.tripod.com/

5 komentar:

  1. Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    adalah khilafah islam akhir zaman yang sedang menantikan
    kehadiran orang-orang mukmin yang siap
    bergabung menjadi pejuang islam di akhir zaman

    Bilakah anda berminat untuk menjadi pembela dan tentara Islam
    http://dimelayu.com.nu

    BalasHapus
  2. Semoga Allah mengimpun para pejuang dienullah

    BalasHapus
  3. SIAP SIAP SEMOGA ALLAH SELALU MEMBANTU KITA UNTUK MENJADI PEJUAN DI JALANNYA

    BalasHapus
  4. berjuan terus pantang mundur

    BalasHapus